Sabtu, 23 September 2017

China Berambisi Jadi Pusat Big Data

Oleh: Marsot
Sabtu, 08 Juli 2017 04:39:00
BAGIKAN:
reuters
Perusahaan online China.

HANGZHOU (MM): Pada 16 Juni, UCLG Asia Pasifik Komite Kerjasama Profesional Lokal Inisiatif Jalur Sutera Modern (BRLC) meresmikan kantor pusat di dekat West Lake dan menjadi penghuni permanen Hangzhou, kota tuan rumah event G20 Summit 2016 di Tiongkok Timur, kota yang berambisi menjadi pusat strategis untuk Jalur Sutera Online.

"Jalur Sutera Modern adalah salah satu inisiatif terpenting yang pernah saya tahu di dalam hidup saya," ujar mantan PM Selandia Baru dan anggota dewan Forum Keuangan Internasional Jenny Shipley di acara Pertemuan Peresmian Asosiasi Internasional Jalur Sutera 2017 pada 17 Juni lalu.

Zhao Yide, sekretaris Komite Partai Komunis Tiongkok Kota Hangzhou, mengatakan, Hangzhou akan terus membangun zona ekspererimental e-commerce lintas batas komprehensif, dan mempercepat pembangunan pusat inovasi, layanan dan big data berdaya saing internasional, agar dapat menjadikan Hangzhou sebagai pusat strategis Jalur Sutera Online.

Baru-baru ini, Hangzhou telah menjadi titik awal dari sebuah petualangan baru, sebagaimana Jalur Sutera Kuno untuk mengeksplorasi dunia barat ribuan tahun lalu. Pada kuartal pertama tahun ini, Hangzhou mencatatkan pendapatan sebesar USD 1,82 miliar dari industri e-commerce lintas batas, yang terdiri dari ekspor sebesar USD 1,35 miliar, naik 21,78 persen YoY. Total 106 perusahaan e-commerce telah pindah ke zona eksperimensial selama periode tersebut, bertindak sebagai pendorong ekonomi yang krusial bagi perdagangan internasional di Hangzhou.

Hangzhou telah menjelma menjadi salah satu kota di Tiongkok dengan perekonomian yang paling dinamis, dan kota ini mendapatkan mandat sebagai kota pengimplementasian sejumlah program reformasi, seperti Zona Demonstrasi Inovatif Independen Nasional dan Zona Demonstrasi Ekonomi Bandara Hangzhou. Data tersebut menunjukan setelah penyelenggaraan KTT G20, pengaruh internasional Hangzhou terus tumbuh.

Selain rencana reformasi nasional, beberapa inisiatif dari komunitas sipil juga telah bergaung. Selama penyelenggaraan KTT G20 tahun lalu, pendiri dan executive chairman Alibaba, Jack Ma, untuk pertama kalinya mengemukakan konsep "eWTP" (Electronic World Trade Platform), yang tertulis di dalam pengumuman resmi bagi para pimpinan KTT G20 Hangzhou.

Ide ini langsung direalisasikan. Maret tahun ini, Alibaba Group dan pemerintah Malaysia mengumumkan kesepakatan kerjasama penting untuk membangun "pusat digital" eWTP pertama di luar Tiongkok guna membantu generasi muda dan usaha kecil di Malaysia serta seluruh wilayah Asia Tenggara berpartisipasi dalam perdagangan global.

"Kami bisa memanfaatkan Alibaba untuk menjual produk berkualitas Malaysia ke negara lain dan memperkenalkan barang impor berkualitas tinggi bagi warga Malaysia," tutur Huang Wanbing, chief operating officer Malaysia Digital Economy Corporation (MDEC).

Sementara itu, produk buatan Tiongkok dengan logo Hangzhou mendunia. Di Frankfurt, Jerman, banyak jalan yang diberi nama perusahaan Tiongkok Chint. Hanya Siemens, Bosch dll. yang mendapatkan kehormatan serupa di Jerman. Dua tahun silam, Chint Group, melalui operasi modal dan restrukturisasi aset, mengubah pabrik komponen milik perusahaan photovoltaic terkemuka Jerman Conergy menjadi bisnis modul PV lokal terbesar, yang menciptakan lebih dari 200 lapangan pekerjaan.

Data menunjukkan bahwa saat ini ada 93 proyek investasi di negara-negara di sepanjang Jalur Sutera dari Hangzhou. Untuk proyek tersebut, pihak Tiongkok menjanjikan 3,563 miliar dolar AS, menyumbang 37,86 persen total jumlah investasi asing Hangzhou yang disepakati.

Sumber: antaranews.
BAGIKAN:

BACA JUGA

KOMENTAR
Copyright © 2014 - 2017 MandarinMedan.com. All Rights Reserved.