Kamis, 19 Juli 2018

Organisasi Tionghoa Gandeng NU

Oleh: Jallus
Kamis, 04 Januari 2018 05:13:00
BAGIKAN:
istimewa.
NU dan pelatihan.

YOGYAKARTA (MM): Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti) menggandeng Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah membuat rumusan bersama untuk memecahkan persoalan ketimpangan masyarakat di Indonesia.

Sejumlah tokoh agama dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang terlibat dalam pertemuan yang berlangsung di Yogyakarta, secara tertutup itu di antaranya Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif, Ketua PBNU  Imam Aziz, serta Koordinator Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid.

"Kami ingin bersama-sama Muhammadiyah dan NU memerangi musuh bersama yang sesungguhnya yakni kesenjangan dan kemiskinan," kata Wakil ketua umum Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti) Budi S Tanuwibowo, Rabu 3 Januari 2017.

Menurut Budi, persoalan ketimpangan dan kemiskinan tidak terkait dengan urusan etnis maupun agama. Hal itu merupakan masalah yang perlu diselesaikan bersama-sama oleh seluruh elemen bangsa Indonesia.

Selain kemiskinan dan kesenjangan, persoalan mendasar yang perlu segera dipecahkan bersama adalah kebodohan. Pasalnya, selama masih ada kebodohan, masyarakat tetap mudah diadu domba.

"Sehingga musuh sejati kita yang sesungguhnya bukan saudara kita sendiri, tetapi kemiskinan dan kebodohan," kata dia.

Alissa Wahid menilai persoalan ketimpangan dan kemiskinan memang perlu segera dipecahkan karena tingat kesenjangan masyarakat Indonesia pada 2016 telah menempati urutan terburuk ketiga dunia setelah Thailand dan Rusia.

"Di sisi lain Indonesia akan segera memasuki era pasar bebas di mana Indonesia dipandang sebagai pasar yang cukup potensial. Masalahnya kita sendiri masih kurang memersiapkan diri," tuturnya.

Alissa menyebutkan ada sejumlah program yang disepakati bersama untuk mengatasi kesenjangan dalam pertemuan yang digagas Inti tersebut. Di antaranya, program pembangunan kewirausahaan di kalangan santri, pembangunan akses pasar pengusaha NU dan Muhammadiyah, pelatihan perencanaan keuangan.

Selain itu, disepakati pula program pertukaran penyemai moderatisme ke negara-negara lain termasuk Tiongkok, pelatihan kepemimpinan pemuda lintas iman, Program Beasiswa Pelangi untuk siswa SMA/MA/SMK sederajat, serta pelatihan penguasaan Bahasa Mandarin untuk santri.

Syafii Maarif mengakui untuk mengatasi kemiskinan, bangsa Indonesia memang perlu belajar dengan komunitas Tionghoa, khususnya mengenai bagaimana mengembangkan bisnis dan mengelola keuangan.

"Sayangnya kita tidak mau belajar bagaimana mereka (masyarakat Tionghoa) 'menjinakkan' uang. Kita perlu belajar pada mereka," ujarnya.

Sumber: antaranews.
BAGIKAN:

BACA JUGA

KOMENTAR
Copyright © 2014 - 2018 MandarinMedan.com. All Rights Reserved.
vipqiuqiu99 vipqiuqiu99