Kamis, 18 Oktober 2018

Membenahi Tim Thomas dan Uber Indonesia

Oleh: Jallus
Minggu, 27 Mei 2018 07:26:00
BAGIKAN:
istimewa.
Bulutangkis.

BANGKOK (MM): Target boleh setinggi langit untuk memotivasi perjuangan para atlet. Namun, capaian hanya sampai semifinal Piala Thomas dan perempat final pada Piala Uber adalah hasil yang realistis bagi tim bulu tangkis Indonesia pada tahun ini.

Dalam kejuaraan beregu paling bergengsi di dunia di Bangkok, 20-27 Mei 2018, tim putra Indonesia harus mengakui keunggulan Tiongkok di semifinal Piala Thomas, sedangkan tim putrinya sudah tersisih terlebih dahulu di babak perempat final oleh tuan rumah Thailand.

Dengan demikian, kerinduan masyarakat Indonesia untuk melihat kembali timnya meraih supremasi bulu tangkis beregu tingkat dunia itu sementara belum bisa terwujud.

Pada Piala Thomas yang sudah berlangsung sejak 1949, Indonesia masih merupakan negara yang paling sering juara (13 kali). Namun, setelah 2002, trofi tersebut belum pernah diraih kembali, menyusul persaingan bulu tangkis dunia yang makin ketat.

Pada Piala Uber pun sudah hampir 22 tahun Indonesia belum memliki tim putri yang kuat yang mampu menjuarai turnamen beregu putri tersebut.

"Pemain kita sudah berusaha maksimal. Tim pelatih juga sudah mempersiapkan tim sebaik mungkin. Akan tetapi, kita harus menerima bahwa lawan lebih bagus," kata Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Susy Susanti.

Susy juga sebagai Manajer Tim Indonesia pada Piala Thomas/Uber 2018 tetap memberi apresiasi terhadap para pemain atas penampilan mereka sejak babak penyisihan.

Pada Piala Thomas, tim putra Indonesia bisa menjadi juara grup di penyisihan, kemudian mengalahkan Malaysia pada babak perempat final sebelum menyerah kepada Tiongkok di semifinal.

"Kami sudah mencoba yang terbaik, mengeluarkan segala kemampuan yang kami punya, tetapi ternyata kita tidak bisa mengalahkan Tiongkok di semifinal. Kami mohon maaf kepada masyaraat Indonesia, Piala Thomas belum bisa diraih," kata kapten tim putra Indonesia Hendra Setiawan di Impact Arena Bangkok, tempat berlangsungnya turnamen tersebut.

Hendra Setiawan yang berpasangan dengan Mohammad Ahsan sebagai ganda putra kedua pada semifinal Jumat (2/5) malam harus mengakui keunggulan pasangan ganda putra nomor empat dunia Li Junhui/Liu Yuchen sehingga tim Indonesia kalah 1-3. Pupus harapan ke final.

Tim putri yang memang beban targetnya tidak setinggi tim putra, tetap bisa lolos ke babak perempat final. Namun, harus mengakui keunggulan tuan rumah Thailand yang tahun ini memang memiliki materi pemain yang cukup bagus, khususnya di tunggal putri.

Meskipun demikian, Indonesia tetap bisa memberi perlawanan yang ketat. Misalnya, tunggal putri Gregoria Mariska yang sejak awal penampilannya di Piala Uber 2018 terus konsisten dan tak terkalahkan.

Pada babak perempat final, dia bahkan mampu mengalahkan pemain peringkat 11 dunia dari Thailand Nitchaon Jindapol sehingga publik tuan rumah Thailand sempat terhenyak.

"Gregoria kali ini memang lebih bagus. Gerakannya lebih cepat daripada biasanya, dan cukup matang untuk mengatasi berbagai masalah di lapangan," kata pelatih tunggal putri Indonesia Minarti Timur.

Peringkat Tunggal Meskipun Piala Thomas dan Piala Uber adalah turnamen beregu, perlu strategi sebagai suatu tim. Namun, tetap saja kualitas individual masing-masing pemain ikut menentukan kesuksesan untuk meraih juara.

Terlebih lagi, kekuatan pada sektor tunggal. Formasi tim di Piala Thomas dan Uber ini adalah tiga tunggal dan dua ganda.

Tim finalis pada tahun 2018, yakni Jepang dan Tiongkok di Piala Thomas, serta Jepang dan Thailand di Piala Uber, juga memiliki materi pemain-pemain yang bagus, khususnya di sektor tunggal.

Tuan rumah Thailand yang membuat sejarah baru lolos ke final Piala Uber saat ini punya Ratchanok Intanon (peringkat empat dunia) yang didukung oleh Nitchaon Jindapol dan Busanan Ongbamrungphan (peringkat 11 dan 22 dunia). Dengan trio tunggal itulah mereka dapat mengalahkan juara bertahan Tiongkok di semifinal.

Di Piala Uber 2018, Tiongkok memang tidak sekuat 2 tahun lalu. Akan tetapi, di Piala Thomas tim putra Tiongkok bisa dibilang sebagai favorit juara. Tiongkok punya tiga pemain tunggal putra yang masih bercokol di 10 besar dunia, yakni Shi Yuqi serta dua pemain senior dengan segudang pengalaman, Chen Long dan Lin Dan.

Ditambah dua ganda putranya yang saat ini masuk peringkat lima besar dunia, sudah merupakan modal yang cukup bagi tim Tiongkok untuk merebut kembali Piala Thomas yang 2 tahun lalu lepas ke tangan Denmark.

Bagaimana dengan Indonesia? Sayangnya justru di Piala Thomas dan Uber ini sektor tunggal masih menjadi titik lemah.

Indonesia punya pasangan ganda putra Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon yang sudah menunjukkan konsistensi sebagai pasangan teratas dunia, termasuk di Piala Thomas 2018. Mereka menyumbang satu-satunya angka bagi Indonesia di semifinal. Akan tetapi, tidak cukup hanya dengan "the minions" bagi Indonesia untuk bisa menjuarai Piala Thomas.

Jonatan Christie dan Anthony Ginting sebenarnya cukup memberi harapan, mengingat peringkat mereka sudah mendekati ke 10 besar. Namun, di Piala Thomas ini pun mereka belum bisa mengatasi pemain-pemain top Tiongkok.

Di kelompok putri Indonesia mengalami masalah serupa, bahkan lebih parah lagi dibanding tim putra. Indonesa masih belum memiliki pemain-pemain tunggal putri yang bisa konsisten di jajaran atas perbulutangkisan dunia.

"Sektor tunggal putri memang perlu mendapat perhatian ke depan agar kita bisa bisa melangkah lebih jauh lagi di Piala Uber," kata Susy Susanti.

Sejarah membuktikan, Indonesia bisa menjadi juara Piala Thomas dan Piala Uber ketika memiliki pemain-pemain tunggal yang kuat dan mapan di peringkat atas dunia, selain juga didukung sektor ganda.

Terakhir Indonesia menjuarai Piala Thomas pada tahun 2002 ketika diperkuat pemain tunggal putra terbaik dunia saat itu Taufik Hidayat dan juga Hendrawan, juara dunia pada tahun 2001.

Di Piala Uber, Indonesia berjaya pada tahun 1994 dan 1996 ketika Susy Susanti masih menjadi "ratu" bulu tangkis dunia, serta didukung oleh tunggal putri lainnya yang juga tanggguh, seperti Mia Audina dan Yuni Kartika.

Indonesia perlu membenahi sektor tunggal, di samping menjaga prestasi di sektor ganda agar ke depannya bisa kembali menjadi juara Piala Thomas dan Uber.

Sumber: antaranews.
BAGIKAN:

BACA JUGA

KOMENTAR
Copyright © 2014 - 2018 MandarinMedan.com. All Rights Reserved.
vipqiuqiu99 vipqiuqiu99