Rabu, 13 Desember 2017

Filipina Selidiki Imunisasi Vaksin Deman Berdarah

Oleh: alex
Selasa, 05 Desember 2017 05:10:00
BAGIKAN:
reuters.
Ronald Dela Rosa, Kepala Polsi Filipina.

MANILA (MM): Filipina memerintahkan penyelidikan mengenai imunisasi vaksin demam berdarah pada lebih dari 730 ribu anak-anak, yang dihentikan menyusul pengumuman perusahaan obat Prancis Sanofi bahwa vaksin tersebut dapat memperburuk penyakit pada beberapa penderita.

Lembaga swadaya masyarakat di Filipina mengatakan menerima informasi bahwa tiga anak-anak, yang divaksinasi dengan vaksin Dengvaxia pada April 2016, meninggal, namun Sanofi mengatakan bahwa tidak ada kematian dilaporkan sebagai akibat dari program tersebut.

"Sejauh yang kami tahu, dan sejauh yang kami sadari, tidak ada kematian dilaporkan terkait vaksinasi demam berdarah," kata Ruby Dizon, direktur kesehatan Sanofi Pasteur Filipina dalam jumpa pers di Manila.

Pada pekan lalu, Departemen Kesehatan Filipina menghentikan penggunaan vaksin Dengvaxia setelah Sanofi mengatakan bahwa vaksin itu harus betul-betul dibatasi karena bukti bahwa vaksin tersebut dapat memperburuk penyakit pada yang sebelumnya tidak pernah terpapar infeksi.

Dalam pernyataan dikeluarkan di Filipina, Sanofi menjelaskan "beberapa temuan baru", namun mengatakan bahwa evaluasi keselamatan jangka panjang vaksin tersebut menunjukkan secara signifikan bahwa lebih sedikit rawat inap demam berdarah pada orang yang divaksinasi pada usia sembilan tahun keatas dibandingkan dengan mereka yang belum divaksinasi.

Hampir 734 ribu anak berusia sembilan tahun ke atas di Filipina telah menerima satu dosis vaksin sebagai bagian dari program yang menelan biaya 3,5 miliar peso (69,54 juta dolar Amerika Serikat).

Departemen Kehakiman Filipina pada Senin memerintahkan Biro Investigasi Nasional (NBI) untuk melihat dugaan bahaya terhadap kesehatan masyarakat, dan jika terdapat bukti yang meyakinkannya, pihaknya akan mengajukan tuntutan yang sesuai.

Tidak ada tanda bahwa pejabat kesehatan Filipina mengetahui ancaman saat mereka menjalani vaksinasi.

Meski begitu, Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan pada sebuah makalah pada Juli 2016 bahwa vaksinasi kemungkinan tidak efektif secara teoritis, bahkan dapat meningkatkan risiko rawat inap di rumah sakit atau penyakit demam berdarah parah pada mereka yang tidak berpenyakit pada saat vaksinasi pertama tanpa memandang usia.

Otoritas Ilmu Kesehatan Singapura mengatakan pekan lalu bahwa pihaknya menandai adanya risiko saat vaksin tersebut disetujui di sana pada Oktober 2016, dan bekerja dengan Sanofi untuk memperkuat peringatan risiko pada kemasan obat tersebut.

Menurut Sanofi di Manila, dari 19 izin untuk vaksinasi Dengvaxia dan diluncurkan di 11 negara, hanya dua di antaranya -Filipina dan Brasil- memiliki program publik untuk mengelola vaksin tersebut.
 

Sumber: antara/reuters.
BAGIKAN:

BACA JUGA

KOMENTAR
Copyright © 2014 - 2017 MandarinMedan.com. All Rights Reserved.
vipqiuqiu99 vipqiuqiu99