Jumat, 22 September 2017

Tenaga Muda Pertanian Taiwan Belajar ke Indonesia

Oleh: alex
Rabu, 13 September 2017 04:59:00
BAGIKAN:
istimewa.
Jambi Air.

JAKARTA (MM): Dalam rangka menjalankan "New Southbond Policy" atau Kebijakan Baru ke Arah Selatan yang digagas Presiden Republik China Tsai Ing-Wen yang salah satu poinnya menekankan pada kerja sama dengan negara-negara di Asia Pasifik, Kementerian Luar Negeri dan Dewan Agrikultur negara tersebut mengirim para pemudanya untuk mempelajari pertanian di Indonesia.

Dalam agenda bertajuk "Taiwan Young Agricultural Ambassador" yang berlangsung pada 9-16 September ini, sebanyak 15 tenaga muda Taiwan yang berlatar belakang di bidang pertanian berupaya menyerap sekaligus berbagi ilmu dengan pihak-pihak di dalam negeri.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari perjalanan kerja sama pemerintah Indonesia dan Taiwan dalam usaha memajukan sektor agrikultur di kedua negara yang sudah berlangsung selama 40 tahun.

Kepala Kantor Ekonomi dan Perdagangan Taipei (TETO) John Chen dalam kegiatan perkenalan dengan para peserta di Jakarta menyampaikan, kegiatan ini membawa prinsip "memanusiakan manusia" dan kerja sama yang saling menguntungkan.

Meski telah berstatus sebagai negara maju di dunia, Taiwan masih ingin memperbaiki kekurangan yang terjadi pada bidang agrikultur di negaranya.

Meski Indonesia tidak lagi menjadi negara agraris, namun Taiwan memandang masih layak dijadikan tempat untuk belajar mengingat masih luasnya wilayah agrikultur di Indonesia.

Selain belajar dan bertukar pengalaman, Taiwan juga ingin para delegasi pertanian yang hadir juga bisa membangun jejaring internasional agar mampu mengembangkan potensi agribisnis.

John menilai kedua negara memiliki banyak peluang kerja sama di sektor agribisnis yang saling menguntungkan, asalkan mampu berkolaborasi antara Taiwan yang maju di bidang teknologi modern dan Indonesia yang masih menyimpan potensi agribisnis besar.

Para peserta yang diambil dari perguruan tinggi dan pelaku usaha di bidang pertanian, akan melakukan pengamatan lapangan di tiga kota, yaitu Jakarta, Bogor, dan Bandung.

Ia pun memahami kesulitan terbesar yang dialami dunia pertanian, baik di Indonesia dan Taiwan, yaitu kurangnya minat generasi muda untuk terjun ke bidang tersebut.

Diharapkan dengan terjunnya para peserta yang berumur sekitar 18-35 tahun ini, dapat memberikan inspirasi dan semangat pada warga Indonesia serta membawa pesan implisit bahwa para pemuda berpendidikan tinggi sekali pun dapat berkecimpung dengan baik di bidang pertanian.

Kesamaan Tantangan Sementara itu Direktur Departemen Layanan Pertanian Taiwan Chung-hsiu Hung syang datang bersama rombongan mengatakan, para peserta yang diikutsertakan dalam kegiatan ini merupakan pemuda yang berprestasi di bidang pertanian.

Bagi peserta yang berlatar belakang mahasiswa, mereka telah berhasil melakukan penelitian di bidang pertanian. Begitu juga yang berlatar belakang agribisnis, mereka pun berhasil dalam mengembangkan teknik pertanian tertentu, katanya.

"Mereka memiliki konsep dan ide pemikiran yang baru, yang diharapkan mampu merevolusi pola pikir dan metode di sektor agrikultur di Indonesia. Dari sini kami juga akan menyerap setiap masukan yang diberikan pihak Indonesia," ujar Hung.

Ia pun menilai bahwa secara umum Taiwan dan Indonesia menghadapi masalah yang sama di sektor agrikultur, misalnya tingginya biaya investasi atau modal, keuntungan yang kecil, dan perubahan iklim.

Oleh karenanya, melalui kerja sama pihaknya dengan pemerintah Indonesia diharapkan kedua belah pihak dapat memberi masukan kepada para petani di masing-masing negara.

Dengan memberi asupan pengetahuan, katanya melanjutkan, para petani bisa beradaptasi, mengembangkan teknik pertanian yang efektif, dan mendorong hasil produksi agar nilai ekonominya lebih tinggi.

Selain itu, selama melakukan pengamatan dan penelitian di Indonesia, Hung menemukan sejumlah permasalahan yang dihadapi sektor pertanian di dalam negeri.

Menurut Hung, kekurangan di sektor pertanian Indonesia ialah kurangnya aplikasi teknologi industri dalam proses pertanian.

Hung memandang petani di Indonesia masih sangat bergantung kepada praktik-praktik pertanian tradisional, berbeda dengan Taiwan yang telah memanfaatkan kemajuan teknologi.

Petani di Indonesia masih menggunakan tenaga manusia, yang mana kurang efektif jika ingin menggenjot hasil produksi, ujar Hung menegaskan.

Oleh sebab itu dalam kesempatan kunjungan kali ini, ia ingin menyampaikan buah pemikirannya tersebut kepada pemerintah Indonesia sehingga dapat memperbaiki sistem pertanian di dalam negeri.

Sehubungan dengan kerja sama antara Taiwan dan Indonesia di bidang pertanian, tahun 1976 merupakan awal mula kedua belah pihak menjalin hubungan di bidang tersebut.

Melalui undangan dari pemerintah Indonesia di masa itu, Taiwan mengirimkan sejumlah tenaga ahlinya untuk mendorong kerja sama di bidang pertanian dan perikanan melalui program Taiwan Technical Mission (TTM) yang masih berlangsung hingga sekarang.

TTM dan pemerintah Indonesia melaksanakan berbagai kerja sama teknis dalam masa lebih dari 40 tahun ini, mulai dari penggunaan alat bajak tradisional, manajemen budi daya petani, pengenalan budi daya buah varietas unggul, hingga proyek pelatihan pertanian modern sekarang ini.

Pemimpin TTM Moh Gwo Jong menjelaskan, sekarang tanggung jawab tenaga ahli yang terlibat dalam program kerja sama ini semakin besar.

Selain diharuskan menransfer ilmu profesional kepada petani di Indonesia, mereka juga harus mampu menganalisa permasalahan dan solusi bagi sektor pertanian dalam negeri.

Di saat yang sama Moh juga berharap para tenaga ahli dan staf TTM bisa menyukseskan dan membawa pertanian Indonesia lebih baik dan punya daya saing tinggi agar mengurangi impor dan yang terpenting memberikan kesejahteraan bagi petani, pungkas Moh.
 

Sumber: antaranews.
BAGIKAN:

BACA JUGA

KOMENTAR
Copyright © 2014 - 2017 MandarinMedan.com. All Rights Reserved.