Jumat, 22 September 2017

Listrik Jadi Alat Ukur Kemiskinan Seperti di Vietnam

Oleh: Marsot
Sabtu, 08 Juli 2017 04:43:00
BAGIKAN:
istimewa
Listrik.

PADANG (MM): Ketua Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia Herman Darnel Ibrahim menyarankan pemerintah sebaiknya mencontoh kebijakan Vietnam dalam melakukan pemerataan energi listrik bagi masyarakat.

"Saat saya berkunjung ke Vietnam, ternyata di sana diterapkan kebijakan penyediaan listrik untuk keadilan dan menghapus kemiskinan," kata Herman Darnel di Padang, pada seminar Inovasi Pengelolaan Sumber Daya Energi Berkelanjutan untuk Ketahanan Nasional yang digelar Universitas Andalas, Jumat 7 Juli 2017.

Menurutnya, salah satu ciri orang tidak lagi dikatakan miskin adalah tersedia listrik.

Ia menceritakan pernah bertemu Aburizal Bakrie saat masih menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Masyarakat dan saat itu sosok yang akrab disapa Ical itu mengatakan, ada dua indikator kesejahteraan masyarakat yaitu tersedia listrik dan ada sanitasi yang baik.

"Jadi kalau orang belum ada listrik di rumah masuk kategori miskin dan jumlahnya berdasarkan statistik mencapai 20 persen," ujarnya.

"Karena itu mengacu kepada apa yang diterapkan di Vietnam berapa pun biayanya harus dikeluarkan agar semua warga bisa menikmati listrik," lanjut dia.

Namun ia menyarankan untuk kampung-kampung kecil yang hanya dihuni lima sampai 10 keluarga sebaiknya ditawarkan untuk pindah yang dibiayai pemerintah karena dana untuk mengalirkan listrik terlalu besar.

"Karena tidak praktis juga kalau ada satu desa yang dialirkan listrik tapi ongkos memasangnya lebih mahal daripada memindahkan penduduk ke tempat yang sudah ada listriknya," katanya.

Ia menceritakan pengalaman saat bertugas di PLN pernah membangun jaringan 10 kilometer dengan biaya Rp10 miliar sementara di desa itu cuma ada 30 rumah yang nilai satu rumah hanya Rp100 juta, dan ketika sudah ada listrik masih tetap miskin.

Herman berharap pada 2020 semua daerah di Tanah Air sudah dialiri listrik sesuai dengan target dalam kebijakan energi nasional.

Namun ia kurang setuju dengan pandangan ketika pada suatu tempat ada solar power maka sudah dianggap memiliki listrik.

"Padahal solar power hanya bisa menghidupkan lampu, sementara berlistrik itu definisinya adalah dapat digunakan untuk aktivitas kehidupan seperti kulkas, mesin cuci, kipas angin dan apapun yang memudahkan kehidupan," ujarnya.

Sebelumnya Direktur Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Hendra Iswahyudi menyebutkan saat ini masih ada tujuh juta rumah tangga atau 28 juta orang yang belum menikmati energi listrik.

"Untuk itu melalui kebijakan subsidi listrik tepat sasaran akan ada penghematan sekitar Rp22 triliun yang dapat digunakan untuk meningkatkan rasio elektrifikasi nasional yang baru 91 persen," ujarnya.

Sumber: antaranews.
BAGIKAN:

BACA JUGA

KOMENTAR
Copyright © 2014 - 2017 MandarinMedan.com. All Rights Reserved.